PEREMPUAN SEBAGAI PEMIMPIN BIJAK, NAVIGATOR, DAN INOVATOR
Oleh : Syafiatul Arum Sani, S.Pd
Berbicara soal kepemimpinan bukanlah hal yang asing lagi saat ini, mengingat tingginya mobilitas disetiap aspek kehidupan. Namun akan menjadi suatu pembicaraan yang tak kunjung sima, bahkan menjadi pembicaraan yang urgen jika kepemimpinan tersebut bersanding dengan gelar perempuan. Hal ini disebabkan karena kepemimpinan merupakan hubungan dua arah antara pimpinan dan yang dipimpin. Kepemimpinan merupakan tugas yang komplek, pemimpin sebagai panutan umat dalam setiap lini kehidupan/kelompok/organisasi untuk mencapai kemaslahatan hidup di dunia juga akhirat.
Banyak faktor yang melatar belakangi cara pandang tersebut, hingga pada akhirnya membuat kerugian-kerugian yang tidak signifikan, khususnya untuk kaum perempuan. Latar belakang budaya, pengetahuan, peradaban, dan kondisi sosial kehidupan manusia yang berbeda, adalah beberapa alasan penyebab terjadinya benturan dan perbedaan persepsi di kalangan masyarakat.
Namun di dalam sebuah organisasi, menurut (Supriani, 2022) bahwa peran kepemimpinan merupakan faktor yang penting, karena pemimpin adalah menggerakkan dan mengarahkan organisasi untuk mencapai tujuan, yang hal tersebut tidaklah mudah untuk dilakukan. Pemimpin harus memahami yang dipimpin, yang memiliki banyak karakter berbeda. Pemimpin harus mampu mempengaruhi yang dipimpin, sehingga bisa memberikan pengabdian dan partisipasinya kepada organisasi secara efektif dan efisien.
Saat ini, tidak sedikit yang menunjukkan hasil penelitian bahwa kepemimpinan kini tidak hanya bergantung pada bakat, keturunan, pengalaman dan gender laki-laki saja. Lebih dari itu, kepemimpinan didasarkan pada kesiapan fisik dan mental, baik laki-laki maupun perempuan secara terencana ke arah profesionalisme. Untuk menghasilkan kualitas kepemimpinan yang baik, maka semua program harus melalui proses perencanaan, analisis, dan pengembangan yang sistematis. Sehingga tercipta kepemimpinan yang sesuai dengan ruh syari’at Islam.
Dan faktanya, saat ini tidak bisa dipungkiri banyak sekali kelompok/organisasi masyarakat yang dipimpin oleh seorang perempuan, semisal lembaga-lembaga pendidikan, yang kini banyak dikepalai oleh seorang perempuan. Oleh karena itu, bersama FATAYAT kita hadirkan kader-kader pemimpin perempuan yang tidak hanya sekedar memimpin dengan apa yang sudah disyar’atkan oleh agama, tapi juga pemimpin yang bisa memimpin dengan bijak. Pemimpin yang juga bisa menjadi navigator, yaitu mampu mengambil suatu keputusan dan mewujudkannya. Tidak berhenti disitu, bersama FATAYAT, kita wujudkan seorang pemimpin yang inovator, pemimpin yang mampu memunculkan dan mengenalkan gagasan-gagasan baru.
Sehingga bersama FATAYAT, bukanlah hal yang tidak mungkin untuk memunculkan, untuk membangun sebuah kepemimpinan suatu organisasi yang di dalamnya di navigasi oleh pemimpin-pemimpin hebat dengan gender perempuan, yang juga penuh inovasi dalam menghadapi setiap tantangan yang datang silih berganti. Kepemimpinan yang dilandasi dengan ilmu, baik agama maupun umum, dan diiringi dengan hati nurani yang bersih.
Membangun sebuah kepemimpinan yang harmonis memang bukanlah suatu hal yang mudah, namun juga tidak berarti tidak bisa untuk diwujudkan. Selain harus mampu untuk profesional, seorang pemimpin juga harus memiliki hati yang luas, penuh simpati dan empati. Dalam hal ini perempuan tidak bisa begitu saja diremehkan, bukan isapan jempol saja jika perempuan memang diciptakan begitu istimewa. Sehingga, sekali lagi saya tegaskan bahwa, “Membangun Kepemimpinan perempuan, Menavigasi Tantangan, dan Menciptakan Inovasi Berkelanjutan” adalah suatu keniscayaan untuk diwujudkan bersama FATAYAT.
Setiap pemimpin pasti memiliki orientasi kepemimpinan alami, tetapi setiap pemimpin harus mampu melampaui orientasi alami untuk memberikan kepemimpinan yang sangat baik dalam berbagai situasi. Sehingga, menjadi pemimpin yang hebat, bermartabat, bijaksana, pemimpin dengan senang hati diikuti segala arahan dan perintahnya oleh yang dipimpin, bukan saja tentang pemimpin yang telah melakukan hal-hal besar, ataupun memiliki banyak gelar. Namun pemimpin yang mau bersama-sama mengepakkan sayapnya untuk meraih sukses bersama, pemimpin yang tidak hanya memikirkan kepentingan pribadi.
Pemimpin yang mampu dengan senang hati merangkul anggotanya, bukan sukanya memberi pukulan pada apa yang ditugaskan. Pemimpin yang selalu mengajak bukan mengejek, memberikan solusi bukan sekedar emosi. Pemimpin yang memberi arahan tentang kebenaran bukan mencari pembenaran, yang berhasil membina bukannya menghina, dan yang dengan tulus menyayangi bukan menyaingi. Pemimpin yang dengan rendah hati mendidik, bukan membidik. Dengan demikian akan dihasilkan sebuah kepimpinan yang tidak berjalan hanya berdasarkan “pengaruh jabatan” yang di dalamnya, seorang pemimpin yang di patuhi oleh yang dipimpin semata-mata hanya karena kekuasaannya. Pemimpin dengan kekuatan pribadi yang besar akan memiliki kompetensi-kompetensi besar, layaknya seorang Navigator.
Navigator, merupakan fitur kepemimpinan yang juga tidak kalah penting, yaitu suatu fitur khusus dalam memberi arahan. Pemimpin berperan seperti seorang Navigator yang ‘mengarahkan’ rute atau haluan kapal dengan menggunakan instrumen dan peta jalan yang jelas untuk sampai pada tujuan. Artinya, kemampuan pemimpin memanfaatkan teori dan konsep sehingga bisa menghasilkan suatu cara dan penerapan yang dapat ditumbuh kembangkan dalam berbagai situasi sesuia karakter masyarakat dan kebudayaan.
Dan juga yang tak kalah penting dalam memberikan arahan serta penerapan suatu keputusan, seorang pemimpin harus melakukannya berdasarkan pada situasi, kondisi, dan keadaan yang sesuai dengan kelompok/organisasi yang sedang dipimpinnya. Sehingga akan semakin menciptakan kondisi kepemimpinan yang harmonis, kondusif, efektif, juga efisien. Seorang pemimpin yang mampu menavigasi anggotanya, akan dengan mudah memvisualisasikan masa depan organisasinya, mengidentifikasi tugas-tugas yang diperlukan untuk bergerak dari visi ke kenyataan.
Kemudian, menjadi seorang peminpin yang penuh dengan INOVASI di era saat ini,saat generasi bangsa, para remajanya yang selalu viral dengan ikon “GEN Z” adalah suatu hal yang tidak hanya penting, tapi sudah menjadi sutu KEHARUSAN. Saat ini menjadi pemimpin yang inovasi tidak hanya berfungsi sebagai peningkat produktivitas, membuat pekerjaan lebih mudah, ataupun lebih efesien. Memimpin dalam lingkungan kerja yang semakin didominasi oleh generasi z memerlukan adaptasi, dan strategi kepemimpinan inovatif yang juga fleksibel.
Pemimpin yang inovatif dengan memperhatikan identitas dan memberikan tanggung jawab yang sesuai dengan pencapaian individu akan mendapatkan rasa hormat dan loyalitas dari generasi ini. Generasi z juga menghargai ruang untuk beropini dan beradaptasi aktif dalam pemecahan masalah. Pemimpin yang memberi ruang untuk ide dan opini, serta mendukung komunikasi yang to the poin, akan lebih mudah mendapatkan kepercayaan dan dukungan dari generasi ini. Generasi z juga mencari pemimpin yang mendorong adaptasi dan dinamis, menciptakan lingkungan kerja yang terus berkembang dan memberikan peluang untuk belajar hal baru.
Dari opini yang telah dipaparkan
0 Komentar