ANALISIS SOSIAL GENDER
Bersama Fatayat Kenali Nilai Diri Perempuan dan Hilangkan Kesadaran Palsu
Oleh : Syafiatul Arum Sani
Sosial gender merupakan salah satu isu yang selalu hangat untuk menjadi topik perbincangan. Sejak tahun 1990-an hingga kini sosial gender telah berkembang dengan begitu masif. Pesatnya kemajuan sosial gender tidak bisa lepas dari keberadaan organisasi-organisasi perempuan di Indonesia, yang vokal menyuarakan isu sosial gender ini.
Fatayat Nahdhatul Ulama' adalah salah satu organisasi perempuan yang memberikan perhatian penuh dalam isu gender, yang bahkan telah memasukkan isu gender dalam visi dan misi organisasinya. Sebagai organisasi perempuan Nahdlatul Ulama', Fatayat NU akan terus memperjuangkan terwujudnya keadilan gender sebagai salah satu pilar utama yang berjaya di Negeri tercinta Indonesia. Nahdhatul Ulama' sebagai organisasi yang menjunjung tinggi keadilan laki-laki dan perempuan, khususnya Fatayat NU berkomitmen dan akan senantiasa berdiri di baris depan untuk terwujudnya keberlangsungan keadilan gender secara proporsional.
Namun begitu, tak bisa dipungkiri jika keadilan sosial gender itu belum bisa dinikmati secara maksimal dan merata. Khususnya bagi kaum perempuan yang berada di daerah yang jauh dari kota, kita perempuan-perempuan yang berada di desa masih jauh dari kata adil dalam peran gendernya. Dan mirisnya itu terjadi lantaran kurangnya pemahaman akan betapa banyak nilai diri yang ada pada perempuan, dan masih banyaknya kesadaran palsu yang tanpa disadari melekat pada diri perempuan.
Tanpa kita sadari, peran gender ini sering kita khianati, khususnya oleh kaum perempuan itu sendiri. Hingga saat ini, tidak sedikit dari kita kaum perempuan yang masih terlena dalam buaian bentukan/kebiasaan yang secara tidak tertulis telah disepakati di lingkungan masyarakat, itulah bentuk penghianatan terbesar kita sebagai seorang perempuan.
Sedikit contoh, seperti pembiasan dalam rumah tangga bahwa seorang istrilah yang bertanggung jawab untuk menghidangkan makanan di atas meja, atau bahkan sekedar membuka jendela-jendela rumah di pagi hari. Yang kesemuanya itu sangat merugikan bagi kaum perempuan. Sedang di sisi lain kita sebagai perempuan juga sangat menginginkan untuk diberikan keadilan yang sama dalam perlakuan/penerapan gender itu sendiri.
Penghianatan dalam berjalannya sosial gender itu terjadi karena adanya KESADARAN PALSU, dan KURANGNYA PEMAHAMAN/KESADARAN DIRI akan NILAI seorang diri SEBAGAI PEREMPUAN. Kesadaran palsu ini adalah sebuah kesadaran yang dianggap wajar oleh kebanyakan seorang perempuan, yang sebenarnya itu bukanlah hal yang benar, seperti contoh yang telah dipaparkan penulis di atas. Dan kurangnya kesadaran diri bahwa seorang perempuan diciptakan dengan dibekali banyak kelebihan,jika hadirnya adalah simbol kebesaran, dan kesempurnaaan Sang Maha Cipta, Allah SWT.
Kesadaran palsu yang merupakan kesadaran yang timbul akibat dari kesepakatan sosial yang telah berakar sejak lama. Kesadaran jika perempuan itu hanya sebagai pelengkap kaum laki-laki, hanya sebagai figuran, dan tidak mampu untuk menjadi sosok pemeran utama. Kesadaran yang mengharuskan perempuan mengerjakan hal yang sebenarnya itu bukanlah kodratnya, melainkan hanya sebatas gender yang bisa untuk dinegosiasikan. Kesadaran yang dengan fatal membuat peran perempuan, kehebatan perempuan yang sejak zaman dahulu, bahkan sebelum zaman jahilia menjadi tidak terlihat bahkan terkikis.
Dari apa yang telah penulis kemukakan di atas, melalui organisasi Fatayat NU penulis berharap dan sangat optimis mampu untuk mengajak kaum perempuan lebih bisa mendapatkan keadilan sosial gender lebih maksimal,dan merata di mananapun perempuan berada.
0 Komentar