Kini Sania seorang diri di dalam kamarnya, sedikit merasa canggung, membuatnya bingung harus bagaimana. Sania terduduk dari ranjangnya, berjalan ke arah meja rias dan duduk di depan cermin, mengamati wajahnya dalam keremangan cahaya. Samar mengingat kembali ucapan terakhir ibunya.
"Malam pengantin yang Indah," gumamnya dalam hati, mengulang kembali kalimat tersebut. Entah mengapa membuat Sania merasa sedikit aneh, membuat kulitnya meremang. Mungkin ini memang bukan pernikahan yang pertama baginya, tapi tetap saja ini adalah malam pertama. Dan apakah sudah terlambat baginya untuk melalui prosesi ini, kini hati Sania bertanya-tanya.
Didengarnya suara pintu yang dibuka, perlahan Sania membalikkan badannya dan mendongak untuk menatap wajah yang sedang menyandarkan tubuhnya di pintu. Firman tersenyum hangat kearahnya, membuat Sani merasa nyaman, menghilangkan sedikit resah yang sedang berpacu di hatinya.
Firman berjalan ke arah Sani, berdiri dibelakangnya, menatap Sani melalui cermin yang ada di depannya. Membantu Sania yang berusaha melepaskan tiara di rambutnya. Membelai lembut pundak Sani, perlahan membawa Sani berdiri berhadapan dengannya.
"Apa kamu gugup?" Firman mengernyit, saat disadarinya jika Sani terasa sedikit kaku, dan dilihatnya rona wajah Sani yang memerah.
"Sedikit ...," jawab Sania "tapi aku juga penasaran, aku sudah lama menantikan momen seperti ini." Sania melanjutkan ucapannya, begitu lirih. Entah apa sebenarnya yang sedang Sania rasakan.
Firman membawa Sani kedalam dekapannya, memeluknya lembut. Berharap mampu menghilangkan ketegangan, resah atau apapun itu yang tengah dirasa wanita yang kini telah resmi menjadi istrinya. Membelai lembut punggungnya.
"Terimakasih," ucap Firman kemudian, "dan juga, aku sangat mencintaimu," Firman melanjutkan kalimatnya.
Perlahan namun pasti Sani mulai membalas dekapan Firman, dengan antusias dan kehangatan yang mengaliri perasaannya, membuat Sani semakin nyaman berada dalam dekapan suaminya. Meyakinkan dirinya atas semua yang sedang dialaminya saat ini. Walau dirinya juga belum mampu untuk berkata untuk sekedar membalas pernyataan yang telah Firman ucapkan.
Kini Firman menatap wajah Sani, membelai lembut pelapis istrinya, mengecup keningnya. Menuntunnya menunju ranjang pengantin mereka. Sani menurut, dengan canggung membalas senyuman yang Firman berikan kepadanya.
Sani sudah merasa lebih nyaman, dan lebih santai dibanding beberapa menit yang lalu. Firman begitu pengertian, tidak seperti yang Ia bayangkan sebelumnya, jika Firman akan menuntutnya dengan tergesa. Dan pemikirannya itu membuat Sani merutuki dirinya sendiri.
Sani menyandarkan kepalanya di dada bidang Firman diatas ranjang, sedang Firman bersandar pada headboard. Firman mendengar ucapan istrinya dengan seksama, atas pertanyaan-pertanyaan yang Ia berikan. Memainkan jemari-jemari dan sesekali mengecupnya. Sedang waktu terus berjalan, kini malam semakin larut.
Diluaran sana, binatang malam semakin tak lagi terdengar suaranya. Hembusan angin gunung, semakin jelas terdengar desirnya. Namun sama sekali tidak mempengaruhi kehangatan yang kuat terpancar di ruang kamar pengantin, bukan karena pengahangat ruangan yang sempurna aktif menyala.
"Sungguh ini yang pertama bagimu Sania?" Ucap Firman perlahan di telinga Sani.
Sani mendongakkan kepalanya untuk menatap Firman. Ada getaran di hatinya, dan desiran halus menjalar di seluruh aliran darahnya ketika Sani menatap Firman saat ini, tatapan Firman tidak seperti sebelumnya. Sebuah tuntutan kuat terpancar jelas pada kemilau hangat manik hitam Firman. Membuat kata-kata yang ingin diucapkan menjadi tertahan, dan hanya mengangguk perlahan.
Firman merundukkan kepalanya, menempelkan bibirnya lembut di bibir Sania setelah beberapa detik menatap intens wajah istrinya. Sedang tangannya membawa Sani semakin dalam ke dalam pelukannya di bawah selimut sutra nan halus juga lembut. "Kita akan melakukannya dengan perlahan." Bisik Firman lembut di telinga Sania.
Gairah menyelimuti mereka, sedang Sani merasa degup jantungnya semakin sulit Ia mengendalikannya. Firman semakin dalam mengulum, dan menjelajah seluruh ruang yang ada di dalam bibirnya. Perlahan Sani mulai membalas setiap sentuhan yang Firman berikan, karena Ia juga tidak ingin hanya menjadi penerima dimalam ini.
Kini Sania tidak sungkan lagi untuk juga memanggut bibir Firman, mengecap rasa saat lidahnya dan lidah Firman saling berdansa. Lengan Firman memeluk Sania, mendekapnya erat-erat tubuh Istrinya, seakan dirinya ingin menyatukan tubuhnya dengan tubuh Sania.
Sania terengah pelan dan tangannya pun membalas dekapan suaminya, berinsiatif untuk membalas semua yang telah Firman berikan. Dan Firman pun mengerang, mengisap lembut bibir bawah Sania. Menurunkan tangannya, perlahan jemarinya meraba dengan sedikit memberi tekanan, dan meremas lekukan bulat dan kencang yang menegang di telapak tangannya.
Firman mengangkat kepalanya, memberi jarak dengan wajah istrinya. Memandang wajah Sania, memandangi bibirnya yang merah dan membengkak, pipi Sania merona, dan kemilau matanya sarat akan gairah. "Aku akan melepaskan ini!" Kata Firman, suaranya tidak lebih serupa bisikan di telinga Sania, suaranya terdengar begitu serak dan penuh dengan tuntutan.
Bermenit-menit berlalu, membuat Firman akhirnya menjatuhkan tubuhnya perlahan diatas Sania, setelah getaran hebat melanda dirinya. Sedang Sania terkulai lemah, berusaha kembali untuk bernafas normal di bawah Firman yang masih menyandarkan kepala di dadanya.
Perlahan Sania membelai lembut punggung suaminya dan Ia menggerakkan tubuhnya lembut. Sebagai protes akan berat tubuh suaminya. Firman mengerang lembut, dan berguling untuk berbaring di samping istrinya. Memandang wajah Sani yang masih dihiasi peluh yang tersisa di keningnya, membuat anak-anak rambut yang berserakan.
Firman tersenyum hangat, membelai lembut pipi istrinya. "Kamu meluluhkanku Sania," ucap Firman pelan, mengecup kening, dan hidung Sania, "aku tahu akan begitu indah dan terasa begitu nikmat, tapi aku tidak menyangka akan sedahsyat tadi."
Sania memainkan jemarinya pada rambut Firman, merapikan rambut suaminya yang berantakan, yang terlihat indah di matanya. Sania memberikan senyuman atas pernyataan suaminya tersebut, mata Sania menunjukan kepuasan, dan wajahnya yang berseri-seri sudah cukup bagi Firman untuk mengetahui apa yang dirasakan oleh Istrinya.
Firman merapikan kembali selimut yang sedikit berantakan, menatanya untuk menutupi tubuh Sania juga dirinya dengan sempurna. Kembali mengecup kening istrinya, dan mendekapnya dalam pelukan yang hangat. Membelai rambut Sania lembut untuk menina bobokannya. Setelah terbuai oleh malam yang menggairahkan, kini mereka terbuai oleh mimpi indah yang telah lama dinantikannya.
Malam terasa begitu panjang, membelai dua insan yang telah lama berpisah, kini menyatu dalam dekapan takdir cinta. Takdir hidup yang dengan sabar mereka jalani, kini mengahadirkan buahnya yang begitu manis. Tidak akan ada lagi yang bisa memisahkan mereka, selain kematian.
Dalam tidur mereka yang begitu mendamaikan, Firman dan Sania melihat kehidupan mereka yang bahagia. Dikaruniai anak-anak yang lucu dan menggemaskan, dan dikelilingi oleh orang-orang baik. Menjalani kehidupan mereka di Desa Kabut Pelangi, di pegunungan yang selalu dikelilingi oleh kabut tebal, membuat mereka selalu berusaha untuk saling menghangatkan.
Perkebunan apel yang selalu berbuah lebat, perkebunan teh yang selalu memberikan hasil panen yang memuaskan. Pengunjung yang selalu ramai datang dan pergi, juga kesibukan di hutan pinus yang semakin pesat, mewarnai kehidupan mereka. Semuanya hidup dalam kebahagiaan yang di jalani dengan penuh rasa syukur.
***
TAMAT
0 Komentar